Bekatul Bukan Dedak

CRP Bekatul - Makanan Diet Alami - Menurunkan berat badan“Jangan ragu mengonsumsi bekatul, sebab bekatul ini bukan dedak yang dimakan unggas, walau bekatul dan dedak memang sama-sama bagian dari padi,” demikian ditegaskan oleh Prof. dr. Bambang Wirjatmadi, MS, MCN, PhD, SpGK (Nutritionist) kepada Tabloid CANTIQ, Edisi 148 – 1 Juni 2010.

Dedak merupakan hasil penyosohan (pengilingan) padi yang pertama dan berwarna kekuningan serta agak kasar. Sedangkan bekatul, hasil penyosohan kedua yang berwarna putih kekuningan atau kecoklatan dengan tekstur yang lebih halus.

“Kalau zaman dulu beras tidak terlalu putih karena penyosohannya kurang bersih. Tapi justru beras yang seperti itu memiliki kandungan nutrisi yang tinggi,” jelas Prof. Bambang. Manfaat bekatul ini semakin gencar disebarkan sejak ditemukannya kandungan vitamin B15 di dalamnya. Sejak itu, pemisahan antara bekatul dan dedak dilakukan untuk mendapatkan manfaat yang besar dari bekatul.

Bekatul secara umum mengandung protein, mineral, asam lemak esensial, Phytosterols, Polyphenols, Phospholipids, Beta-Sitosterol, Co-Enzyme Q10, Omega 3 Fatty Acids, Omega 6 Fatty Acids dan Oleic Acids, dietery fibres (serat pencernaan), Vitamin E Complex (Tocopherols, Tocotrienols, Gamma-Oryzanol), Vitamin B Complex (B1, B2, B3, B5, B6 dan Vitamin B15/Pangamic Acids/Vital Antioksidan), serta nutrisi penting lainnya.

Di Indonesia, Letkol TNI (Purn) dr. Yusuf Nursalim atau yang lebih dikenal dengan panggilan dr. Liem, merupakan pionir dalam penelitian dan pengobatan dengan bekatul. Berdasarkan pengalaman dr. Liem, bekatul dapat digunakan untuk membantu mengatasi gangguan pada pencernaan, kegemukan dan mencegah kanker usus besar.

Disclaimer : Hasil positif yang didapat setiap individu berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor. Informasi diatas hanya digunakan sebagai referensi saja. 

Pengunjung Juga Mencari :

  • apa bedanya dedak sama bekatul
  • dr nursalim (liem) bekatul
  • letkol nursalim
  • makanan dari dedak